Ramadhan sebagai Manifestasi Maqashid Syariah: Menggapai Kebaikan Dunia dan Akhirat

Artikel Populer

Oleh : Muhammah Fither Ahladzikri, Mahasiswa Universitas Az-Zaitunah, Tunisia

Kopiah.co – Pada masa sekarang, para muballigh kerap kali mengutip perkataan Nabi: “beramallah bagi (kepentingan) duniamu seakan-akan kau benar-benar akan hidup selamanya; dan beramallah bagi (kepentingan) akhiratmu seakan-akan kau benar-benar akan mati esok.” Dengan ucapan itu, maka kemudian dapat dibuktikan bahwa Islam memandang urusan duniawi sama pentingnya dengan urusan ukhrawi.  

Sebelum berbicara tentang diskursus keunggulan ibadah vertikal dan ibadah horizontal, ada baiknya kita mengetengahkan sekelumit dari apa yang disepakati oleh para pakar Islam menyangkut tujuan kehadiran agama Islam. Persoalan ini mereka kemukakan dalam uraian tentang apa yang diistilahkan dengan maqashid asy-syari’ah atau tujuan kehadiran syariat Islam. Ulama besar Abu Ishaq Ibrahim bin Umar asy-Syathibi secara singkat menjelaskan bahwa tujuan atau kehendak Allah menetapkan syariat adalah “kemaslahatan manusia dunia akhirat.”

Ulama besar Maroko, ‘Allal al Fassi dalam bukunya Maqashid asy-Syari’ah wa Makarimuha, antara lain menjelaskan bahwa “tujuan umum dari kehadiran syariat Islam adalah memakmurkan (membangun) dunia dan memelihara sistem kehidupan di persadanya.” Ada juga yang merumuskan tujuan umum kehadiran agama Islam adalah “memelihara ketertiban masyarakat dan kelanggengan kebaikannya melalui kelanggengan kebaikan anggota-anggota masyarakat (manusia).” 

Dengan rumusan-rumusan di atas, sangat tampak keterkaitan yang sangat jelas antara syariat dengan individu dan masyarakat. Betapapun rumusan para pakar berbeda-beda, pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa tujuan kehadiran syariat Islam atau penetapan tuntunan agama adalah menciptakan kebaikan dan keadilan serta mengantar manusia melakukan yang baik bagi dirinya sekaligus untuk masyarakat/umat manusia. Oleh karena itu, bisa kita katakan bahwa agama adalah tuntutan yang berkaitan dengan Tuhan dan tata cara berhubungan dengan-Nya juga dengan sesama manusia serta dengan alam raya yang tidak terkekang oleh zaman, kapanpun dan di manapun.

Di bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, rahmat, dan ampunan-Nya. Dengan segala keistimewaannya, bulan Ramadhan menjadi sarana untuk memperbaiki dan mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Oleh karena itu, tentu kebanyakan orang ingin sekali berlomba-lomba dalam kebaikan terkhusus dalam ibadah ukhrawi. Dengan mendekatkan diri kepada sang Ilahi di bulan Ramadhan, menjalankan puasa wajib Ramadhan, melakukan shalat Tarawih, memperbanyak membaca Al-Qur’an, serta beritikaf di Masjid. Deretan ibadah spiritual yang dilakukan pada bulan Ramadhan mempunyai esensi tersendiri dari ibadah yang dilakukan di bulan selain Ramadhan. Perasaan khusyuk dan khidmat menjadi dominan saat beribadah di bulan suci yang penuh keistimewaan. Hal demikian ini, sangat mungkin dapat dirasakan oleh seluruh Umat Muslim di seluruh belahan dunia.

Setiap daerah mempunyai cara tersendiri untuk menyambut dan meramaikan suasana di bulan Ramadhan. Seperti di Tunisa, negara kecil yang berada di antara Aljazair dan Libya di laut Mediterania yang terletak di benua Afrika. Ramadhan di Tunisia, tidak hanya menjadi ajang untuk memperbaiki dan mendekatkan diri kepada sang Pencipta, juga merasakan khidmat dan khusyuk beribadah di bulan Ramadhan. Akan tetapi, menjadi sarana pula untuk melakukan ibadah horizontal dengan mempererat silaturahmi dan kebersamaan kepada sesama.

Masyarakat di Tunisia pada umumnya banyak menghabiskan waktu dengan keluarga dan sanak saudara. Pada waktu malam hari di bulan Ramadhan, tepatnya setelah melakukan ibadah shalat tarawih, masyarakat Tunisia kerap menyemarakkan malam di bulan yang suci dengan cara bersilaturahmi di kedai kopi, dan beberapa deretan jalan di ibu kota Tunisia. Seperti di jalan Hamuda Pasha, setiap malam setelah waktu salat tarawih pasti di penuhi oleh masyarakat Tunisia untuk melakukan silaturahmi baik dengan keluarga, teman dekat, bahkan kolega bisnis. Di sana dilantunkan irama-irama musik Timur Tengah, seperti lagu Ummu Kultsum, Abdel Halim Hafidz, Luthfi Busynak, Saber Reba’i, serta beberapa musisi arab terkenal lainnya. Zuhairi Misrawi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia menuturkan dalam suatu kesempatan wawancara oleh Mehdi Mouelhi, salah satu Influencer dari Tunisia. “Bahwa suasana Ramadhan di Tunisa sangat indah, penuh dengan kehangatan, keharmonisan, senyuman, dan kesenangan, Insya Allah barokah di bulan Ramadhan.” Ramadhan di Tunisia, bukan hanya sekedar bulan ibadah, tetapi juga momentum untuk mempererat kebersamaan, memperkaya tradisi, dan menghadirkan suasana yang hangat. Mungkin itulah ciri khas dari Tunisia, kekhusyukan nuansa spiritual ibadah vertikal bersatu padu dengan syahdunya kekhidmatan ibadah horizontal.

Fenomena di atas, menurut penulis, rasanya tentu tidak berseberangan dengan apa yang disepakati oleh para pakar Islam menyangkut tujuan kehadiran agama Islam, persoalan yang mereka kemukakan dalam uraian maqashid asy-syari’ah atau tujuan kehadiran syariat Islam yaitu kemaslahatan manusia dunia akhirat. Lagi pula, Sukarno menjelaskan dalam Api Islam Bung Karno bahwa “Agama itu bukan hanya urusan privat saja, urusan diri kita dengan Tuhan, tetapi juga Agama itu membawa kemaslahatan bagi bangsa dan negara.” Sekali lagi penulis katakan bahwa Agama adalah tuntutan yang berkaitan dengan Tuhan dan tata cara berhubungan dengan-Nya dan dengan sesama manusia serta dengan alam raya. Dengan memahami hal ini, kita dapat mengetahui bahwa Agama mendorong kita untuk terus melakukan harmonisasi dalam beragama yaitu hablum minallah dan hablum minannas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Indonesia dan Pembaharuan Politik Islam

Kopiah.co - Pergulatan ideologi negara dengan mayoritas umat muslim—yang menjadi negara jajahan—pasca kolonialisme menjadi pembahasan menarik yang memotret dialektika...

Artikel Terkait