Kopiah.co Ketika umat muslim sudah memasuki hari raya Idulfitri, banyak dari mereka menyambut hari yang penuh fitrah ini dengan membeli pakaian indah nan bagus guna mempercantik diri. Dari kejadian ini saya mengamati pada kegiatan masyarakat yang membeli pakaian dan aksesoris lebaran secara besar-besaran. Mulai dari pasar tradisional hingga mal-mal besar yang di dalamnya menjual kebutuhan hari raya.
Untuk barang yang mahal dan eksklusif, penjual memberikan harga diskon besar-besaran. Sehingga menimbulkan hasrat para pembeli untuk memiliki barang tersebut. Fenomena seperti ini seringkali kita temukan di sela-sela perayaan Idulfitri. Tak heran, kerumunan masyarakat sering berbondong-bondong untuk memiliki beberapa barang yang tersedia di pasar. Kemudian memakai atau memajangnya guna diperlihatkan kepada orang di sekitar pada saat bertemu di acara yang dihadiri secara bersamaan.
Berkaca dari tragedi tersebut, saya memiliki pandangan bahwa tingkah laku masyarakat seperti ini akan terus meningkatkan budaya konsumeris. Secara bersamaan, mereka membantu para kapitalis industri untuk mencapai tujuannya dalam penimbunan nilai surplus dan keuntungan pribadi bagi pemilik produk atau investor. Pada akhirnya akan menimbulkan ketimpangan masyarakat dalam sosio-ekonomi serta pemenjaraan dan pembunuhan secara halus terhadap masyarakat kelas pekerja.
Sebelum membahas lebih dalam perihal konsumeris dan kerja produk kapitalis yang tamak, di sini saya melihat perkembangan budaya konsumeris hampir mencapai kesuburan di ruang lingkup masyarakat kota. Sebab, sebagian besar dari mereka sudah memasuki kesadaran yang terlalu fokus kepada gaya hidup tersier tanpa menyadari nilai guna pada sebuah komoditas yang mereka beli. Dengan ini, perlu adanya pemahaman lebih lanjut kepada masyarakat yang belum sadar akan pemberdayaan kapitalis terhadap budaya konsumeris. Sekali lalu, membangun kesadaran individu agar tidak terlalu masuk sebagai aktor budaya konsumeris yang berkelanjutan.
Pada pembahasan budaya konsumeris, saya akan meminjam pemahaman Colllin Campbell. Dimana ia mengartikannya sebagai kondisi sosial yang menjadikan pembelian barang berlebihan sebagai tujuan hidup. Dan fokus dari kepimilikan barang yang dibeli konsumen hanya untuk memenuhi kebutuhan hasrat pribadi tanpa adanya manfaat berkelanjutan di kehidupan sosial. Sehingga, budaya konsumeris membentuk perilaku manusia untuk terus memiliki barang secara berlebihan tanpa melihat seberapa besar kebermanfaatannya di kehidupan nyata.
Tak sampai di sini, tingkah laku budaya konsumeris memiliki ciri hidup yang mewah dan hedon. Ia akan menjadikan momen pembelian barang tersier sebagai ajang pameran bahkan perlombaan, agar orang sekitar melihat dirinya sebagai orang yang mampu dan berhak mendapatkan pujian atas produk mahal yang baru saja ia miliki. Dengan maksud bahwa dirinya saja yang dapat memiliki barang mahal. Sedangkan orang lain di sekitarnya tidak dapat membeli barang mahal yang ia miliki.
Ketika seseorang sudah memiliki karakter budaya konsumeris, secara tidak langsung, ia sudah membantu penimbunan kekayaan kapitalis. Bukti sokongannya dapat kita lihat dari masyarakat konsumeris yang menganggap barang tersier yang dijual oleh para capital adalah barang langka. Padahal, jika kita lihat secara detail pemasaran produk yang ada di pasar, maka sejatinya pasar tidak mementingkan kebutuhan tersier untuk dibeli oleh para konsumen. Pasar juga tidak berusaha keras menawarkan ke para pembeli produk tersier yang kebutuhannya tidak terlalu penting di kehidupan sehari-hari.
Berbeda ketika kita sudah memasuki zaman modern, para produsen berlomba-lomba menarik konsumen untuk membeli barang yang minim manfaatnya di kehidupan sehari-hari. Pun juga, produsen di masa kini hanya terus memproduksi barang sesuai ketertarikan konsumen tanpa memperhatikan fungsinya di kehidupan sosial. Hal-hal semacam inilah yang tidak diperhatikan lebih lanjut oleh para kapitalis dalam kegiatan produksi fashion dan barang-barang hias. Ketika para pelaku budaya konsumeris telah membeli barang tersier yang ditawarkan di sistem perdagangan kapitalis. Tanpa kita sadari, mereka telah menyokong peningkatan nilai keuntungan yang ditimbun para kapitalis di dalam pasar industri.
Bedasarkan pemahaman di atas, baru kita lihat dari segi peran budaya konsumeris dalam membantu penimbunan nilai kekayaan kapitalis saja. Di lain sisi, pelaku budaya konsumeris dijadikan kapitalis sebagai tumbal di dalam kerja produksi mereka. Dengan itu, mereka memaksa para pekerja di barang produksi mereka untuk terus memperbanyak produksi barang dan memperpanjang jam produksi para pekerja dan buruh. Selain itu, kapitalis bertujuan untuk membentuk stratifikasi sosial atau bisa disebut masyarakat antar kelas di ruang lingkup masyarakat. Dua hal ini merupakan struktur yang dibangun para kapitalis-borjouis dan jarang disadari oleh masyarakat konsumeris dan para kelas pekerja.
Dengan ini, kita sudah bisa melihat kerja kapitalis industri yang sebenarnya sebagai aktor utama membangun budaya konsumeris melalui cara kerja industri. Di dalamnya para kapitalis membangun sistem promosi kebutuhan palsu. Mereka memperalat masayarakat melalui indoktrinasi di media sosial ketika memaparkan sebuah komoditas baru atau eksklusif yang memiliki harga jual-beli atau nilai tukar yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Selain menjadi peran utama, para kapitalis juga akan terus meningkatkan penimbunan keuntungannya dengan cara yang terus berkembang dan beraneka ragam. Diantara contohnya adalah menaikkan jam kerja para buruh tanpa menaikan upah kerja mereka. Di samping itu mereka juga akan melakukan pembuangan para pekerja-pekerja produktif di sebuah perusahaan. Dengan cara melakukan tansformasi alat produksi atau perubahan teknik.
Di sisi lain, penambahan jam kerja tanpa menaikan ongkos merupakan cara kapitalis membunuh secara halus. Sebagaimana yang dianalisa oleh Marx bahwa para kapitalis menjadikan manusia kelas buruh yang terkurung oleh waktu jam kerjanya. Sekaligus menutup hak kebebasan dalam membangun kemampuan kreativitas diri di luar jam kerja.
Berdasarkan contoh ini, kekejaman kapitalis dalam menindas kelas pekerja dan memanfaatkan nafsu masyarakat konsumeris perlu kita sadarkan secara berkelanjutan ke masyarakat luas. Karena dampak negatif yang kapitalis lahirkan kepada masyarakat sangatlah kompleks. Tidak berhenti pada pembunuhan halus pada kelas pekerja dan hegemoni kebutuhan palsu kepada masyarakat konsumeris. Para kapitalis akan terus berkembang dengan cara apapun yang ia inginkan. Selama akumulasi kekayaan yang ditargetkan kapitalis belum menyegarkan kepuasan dirinya, selama itu juga penimbunan harta kekayaan para kapitalis akan terus berkelanjutan.