Sebuah Upaya Menjaga Turats Bangsa

Artikel Populer

Penulis: M. Thariqul Akbar Lc. mahasiswa pascasarjana universitas al-Azhar Kairo, Mesir.

Kopiah.co Ketika menyapa buku Soekarno Studies: Ketika Santri Membaca Sang Proklamator, saya teringat dengan turats, sebuah tradisi untuk menjaga (al-Hifdzu) masa lalu—entah berupa tradisi, karya hingga metodologi atau buah pikiran. Pada beberapa kasus, term ini dimaknai sebatas penjagaan atas karya-karya ulama berupa kitab kuning. Karena itu, interaksi saya dengan buku Hilmy Firdausy (H.F.) ini telah mengundang sebuah pertanyaan, “bagaimana jika semangat menjaga masa lalu itu diperluas, tidak lagi dibatasi kepada karya ulama, tetapi juga warisan sejarah kebangsaan?”

H.F., penulis buku Soekarno Studies melakukan “pembacaan” atas teks-teks keislaman Soekarno, yang kemudian ia susun dan telaah secara periodisasi. Sejak judul, buku ini menarik perhatian saya: “Ketika Santri Membaca Sang Proklamator”. Dari judul ini, kita dapat membangun pertanyaan. Misalnya, apakah teks keislaman Sang Proklamator layak dibaca dan dipandang dari sudut pandang seorang santri? Pertanyaan ini melahirkan anak tanya lain: mengapa santri harus membaca Soekarno? Apa yang membedakan pembacaan santri dan nonsantri dalam membaca teks pelopor marhaenisme tersebut? Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu kita untuk memaparkan signifikansi kehadiran Soekarno Studies di tengah bejibunnya buku tentang Soekarno lainnya.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita dapat memberikan satu-dua jawaban. Pertama, adanya kesamaan semangat sejarah pra dan pascakemerdekaan. Baik santri maupun Soekarno, masing-masing menjadi garda terdepan kemerdekaan. Semangat patriotisme dan nasionalisme menghiasi sejarah mereka berdua. Alhasil, santri dan Soekarno sama-sama diikat dengan tali perjuangan membela Tanah Air.

Kedua, salah satu gagasan besar Soekarno memuat istilah agamis.[1] Jika Soekarno dianggap sebagai seorang agamis-Islam (H.F. menyebutnya dengan istilah Islamisme), bukankah santri sebagai salah satu representasi golongan Islam terbesar di Tanah Air—selain wahabi, abangan, dll—, sangat berhak dan perlu untuk membaca model keislaman Soekarno, demi melengkapi puzzle-puzzle pemikiran The Great Lover[2]tersebut?

Kedua jawaban di atas kiranya lebih dari cukup untuk menunjukkan urgensi pembacaan santri atas Sang Proklamator. Namun, kita tetap harus memberikan catatan, sebab kedua jawaban di atas menempatkan Soekarno seolah-olah sebagai orang ketiga, pelakon yang jauh dari kehidupan pesantren. Bayangkan jika Soekarno sebenarnya sangat dekat, bahkan menjadi bagian dari ekosistem pesantren itu sendiri, bukankah dengan demikian, sudut pandang santri jelas akan menjadi lakon utama yang sangat penting nan dinanti pembacaannya? Pada titik ini, buku H.F. menjadi berharga karena ditulis oleh seorang santri tulen.

Di halaman-halaman awal, pada bagian Pra-Scriptum,[3] hal. xi, H.F. menjelaskan ‘metodologinya’ dalam menyusun buku ini. Selain pembacaan struktural ‘ala pesantren’, H.F. tidak membatasi diri pada teks-teks arus utama Soekarno. Sebaliknya, teks-teks ‘terpinggirkan’ yang mungkin dianggap tidak penting karena absensi pikiran Soekarno di dalamnya, justru menjadi titik tolak yang menjadi elemen penting untuk memahami keberislaman[4] Sang Proklamator. “Maka data-data semacam itu;”, tulis H.F. pada halaman xiii“kisah-kisah jenaka, cerita-cerita yang melibatkan Soekarno, dan anekdot-anekdot, akan dipakai sebagai bahan utama dalam usaha untuk merumuskan dan melihat “nalar” Soekarno yang menjadi inti bagi segala bentuk produksi pengetahuan, ide dan gagasan-gagasannya tentang segala hal.”

H.F. memulai buku ini dengan sebuah memoar dari Dr. R. Soeharto, dokter pribadi Soekarno. Dalam memoar tersebut, Dr. R. Soeharto menceritakan kunjungan Soekarno ke salah satu pesantren di Sukanegara. Ia bercerita bagaimana keakraban antara kyai pesantren dan Soekarno. Ia menggambarkan betapa hangatnya hubungan itu dengan diskusi empat mata berjam-jam, dan sajian makanan favorit Soekarno setiap kedatangannya ke sana: nasi putih dengan ayam panggang bumbu kemiri dan sayur bening.

Dalam pembacaan H.F., memoar di atas mengandung informasi yang begitu penting untuk menyusun fragmen keberislaman Soekarno. Teks tersebut menunjukkan ikatan emosional yang sangat mendalam antara Soekarno dan sang kyai—dan dengan demikian juga berarti dunia pesantren. Adanya fakta historis dan pembacaan ini, menuntut adanya pembacaan ulang atas Soekarno. Tidak hanya teks keberislamannya, tetapi juga teks-teks dan gagasan besar sisanya, yakni nasionalisme dan komunisme. Misalkan, kita dapat mengajukan pertanyaan: apakah Soekarno mendekati Islam dengan komunisme, atau justru Islam lah yang mewarnai pembacaan Soekarno atas gagasan komunismenya?

Meskipun buku ini awalnya terlihat hanya bergelut dengan teks-teks keislaman Soekarno, pada akhirnya ia menggoncang—atau justru mengawinkan(?)—tiga term gagasan besar Sang Proklamator. Ibarat permainan lego atau tradisi derridean, fakta historis (memoar Dr. R. Soeharto) yang mungkin dianggap tidak penting, di tangan H.F. menjadi bagian kecil yang mengguncang keseluruhan gagasan besar yang selama ini menjadi arus utama penarasian ‘Soekarnoisme’.


[1] Gagasan besar Soekarno merujuk kepada tiga istilah: nasionalis, agamis dan komunis. Ketiga istilah ini kemudian diakronimkan menjadi NASAKOM.

[2] Julukan ini disematkan kepada Soekarno karena kepiawiannya menggaet wanita.

[3] Selain keempat babnya (Komunitas Santri Membaca Soekarno: Sirkulasi Wacana Soekarnoisme di Desa-Desa Basis Pesantren di Nusantara, Tarekat Perjuangan Marhaenisme: Menebak Isi “Mentjapai Indonesia Merdeka”, Romantika Pertemuan Tiga Ideologi: Membaca Naskah “Nasionalisme, Islamisme, Komunisme”, dan Ambivalensi Nalar Soekarno: Artikulasi Keislaman Soekarno di Tengah Krisis Pembacaan dan Usaha Refondasionalisasi Jati Ke-Nahnu-an), buku ini dilengkapi dengan glosarium untuk membantu pembaca memahami istilah-istilah, kata pengantar oleh Yudi Latif dan prolog oleh Ahmad Baso.

[4] Dengan menggunakan istilah “keberislaman”, saya tidak hanya ingin menggambarkan hasil pikiran Soekarno semata. Lebih jauh, istilah tersebut saya pilih untuk menunjukkan dinamika pemikiran Soekarno; bagaimana pemikiran keislamannya dibentuk dan membentuk, dipengaruhi dan memengaruhi kehidupan dan pemikirannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Indonesia dan Pembaharuan Politik Islam

Kopiah.co - Pergulatan ideologi negara dengan mayoritas umat muslim—yang menjadi negara jajahan—pasca kolonialisme menjadi pembahasan menarik yang memotret dialektika...

Artikel Terkait